Queen News.co / Indonesia — HUT RI ke-81 menjadi cermin: pengorbanan belum sepenuhnya dijawab dengan kebijakan nyata di daerah asalnya.
Setiap Agustus, Indonesia kembali dipenuhi merah putih.
Bendera berkibar di jalan-jalan, upacara digelar di halaman kantor pemerintahan, pidato tentang perjuangan dibacakan, dan pekik “Merdeka!” kembali menggema dari pusat kota hingga pelosok desa.
Namun, di balik kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, ada satu pertanyaan yang semestinya tidak boleh kita hindari:
Apakah kita benar-benar menghormati para pahlawan, atau sekadar mengingat mereka setahun sekali?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita menengok sosok KH Ahmad Hanafiah, ulama sekaligus pejuang yang namanya melekat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Lampung.
Ia bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah bagian dari generasi yang mempertaruhkan hidup ketika kemerdekaan Indonesia masih sangat muda dan belum sepenuhnya aman.
KH Ahmad Hanafiah memimpin laskar rakyat menghadapi agresi Belanda. Perjuangannya berakhir dengan gugurnya sang ulama pejuang di medan pertempuran pada 17 Agustus 1947—tepat dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia..
Ironi sejarah itu terasa begitu kuat.
Ketika bangsa Indonesia sedang memperingati kemerdekaan, seorang anak bangsa justru kehilangan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan tersebut.
Ia tidak menikmati kemerdekaan yang diperjuangkannya. Ia tidak menyaksikan Indonesia tumbuh menjadi negara besar. Ia hanya meninggalkan satu warisan: pengabdian tanpa syarat kepada bangsa dan tanah air.
Lalu, delapan dekade kemudian, apa yang sudah kita lakukan untuk membalas pengorbanan itu?
Ketika penghormatan berhenti di seremoni
Negara telah memberikan pengakuan. KH Ahmad Hanafiah telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Tetapi penghormatan terhadap pahlawan tidak semestinya berhenti pada gelar.
Di tingkat daerah, pertanyaan yang lebih penting justru muncul: seberapa kuat nama dan perjuangan KH Ahmad Hanafiah hadir dalam kehidupan masyarakat Lampung?
Apakah anak-anak sekolah mengenal kisah perjuangannya?
Apakah ruang publik strategis mengabadikan namanya?
Apakah sejarah perjuangannya menjadi bagian penting dari pendidikan lokal?
Apakah masyarakat menjadikan kisah hidupnya sebagai inspirasi tentang keberanian, pengorbanan, dan kecintaan kepada tanah air?
Jika jawabannya belum memadai, maka ada persoalan yang harus segera dibenahi.
Sebab mengenang pahlawan bukan hanya dengan memasang foto mereka di dinding kantor, mengucapkan namanya dalam pidato, atau meletakkan karangan bunga pada momentum tertentu.
Menghormati pahlawan berarti memastikan nilai perjuangannya hidup dalam kebijakan dan kehidupan masyarakat.
Sejarah tidak boleh kalah oleh seremoni
Pemerintah daerah, khususnya di wilayah yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah perjuangan KH Ahmad Hanafiah, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kisah perjuangan tersebut tidak tenggelam ditelan zaman.
Lampung Timur tidak cukup hanya menjadi tempat yang memiliki jejak sejarah. Daerah ini harus mampu menjadi ruang hidup bagi ingatan sejarah itu sendiri.
Caranya bukan sesuatu yang mustahil.
Penamaan jalan utama dengan nama KH Ahmad Hanafiah, pembangunan pusat memorial atau museum perjuangan, penguatan literasi sejarah lokal, integrasi kisah perjuangannya dalam materi pendidikan daerah, hingga penyelenggaraan agenda kebudayaan yang mengangkat warisan perjuangannya dapat menjadi langkah konkret.
Bahkan lebih jauh, pemerintah daerah dapat menjadikan sejarah perjuangan tokoh lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan karakter generasi muda.
Sebab pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung, jembatan, dan angka-angka pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan juga tentang membangun ingatan.
Daerah yang kehilangan ingatan terhadap sejarahnya akan kehilangan sebagian dari identitasnya.
Dan generasi yang tidak mengenal perjuangan para pendahulunya akan lebih mudah menganggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya.
Padahal kemerdekaan tidak pernah gratis.
Ada darah yang tumpah.
Ada keluarga yang kehilangan.
Ada ulama, petani, pemuda, tentara, dan rakyat biasa yang mempertaruhkan kehidupan mereka.
Di antara mereka ada KH Ahmad Hanafiah.
Pahlawan tidak membutuhkan panggung
KH Ahmad Hanafiah tidak hidup di zaman ketika setiap aktivitas bisa direkam kamera.
Tidak ada media sosial untuk mengabadikan keberanian.
Tidak ada panggung untuk membangun popularitas.
Tidak ada penghargaan yang menjadi tujuan utama perjuangan.
Ia bergerak karena sebuah keyakinan:
bahwa kemerdekaan harus dipertahankan.
Ia tidak menunggu keadaan ideal. Ia tidak menunggu kepastian kemenangan. Ia tidak menghitung keuntungan pribadi.
Ia berjuang karena bangsa ini membutuhkan orang-orang yang bersedia berkorban.
Ironisnya, hari ini ketika kemerdekaan telah diwariskan kepada generasi berikutnya, semangat untuk merawat warisan tersebut justru sering kalah oleh kepentingan jangka pendek.
Kita begitu mudah mengucapkan “Merdeka!”, tetapi terkadang lupa bahwa kemerdekaan juga membawa tanggung jawab.
Tanggung jawab untuk menjaga persatuan.
Tanggung jawab membangun daerah.
Tanggung jawab mencerdaskan generasi.
Dan tentu saja, tanggung jawab untuk tidak membiarkan sejarah para pejuangnya menghilang dari ingatan publik.
HUT RI ke-81: momentum untuk bercermin
Peringatan HUT RI ke-81 semestinya tidak hanya menjadi agenda tahunan.
Ia harus menjadi momentum untuk bercermin.
Pemerintah daerah perlu berani mengajukan pertanyaan yang sederhana, tetapi mendasar:
Sudahkah kita benar-benar menghadirkan para pahlawan dalam kehidupan masyarakat, atau kita hanya menyebut nama mereka ketika upacara berlangsung?
Jika jawabannya belum, maka peringatan kemerdekaan tahun ini seharusnya menjadi titik awal untuk melakukan perubahan.
Jangan sampai penghormatan kepada pahlawan hanya berlangsung sehari dalam setahun, sementara 364 hari lainnya nama dan perjuangan mereka kembali tenggelam.
KH Ahmad Hanafiah telah memberikan sesuatu yang tidak mungkin dibeli dengan anggaran sebesar apa pun: pengorbanan hidup untuk mempertahankan kemerdekaan.
Maka, tugas generasi hari ini bukan sekadar mengingat kematiannya.
Tugas kita adalah menghidupkan nilai perjuangannya.
Karena sejarah bukan hanya tentang masa lalu.
Sejarah adalah cermin untuk menentukan siapa kita hari ini dan ke mana bangsa ini akan melangkah.
Dan pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang gugur sebagai pahlawan.
Sejarah juga akan mencatat siapa yang sungguh-sungguh menjaga warisan perjuangan mereka dan siapa yang memilih melupakannya.(R/L)
