Konflik Gajah–Manusia di Lampung Timur, Sunarso LPK YAPERMA Sumbagsel Desak Evaluasi Total Pengelolaan TNWK.

Redaksi
0

 

QueenNews.co.id // Lampung Timur, Rajawaliindonediatv.id - Konflik gajah dan manusia yang kembali terjadi di Lampung Timur hingga merenggut nyawa Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, menjadi peringatan keras atas kegagalan tata kelola kawasan konservasi. Tragedi ini memuncak dengan aksi demonstrasi ratusan warga pada Selasa, 13 Januari 2026, sebagai luapan kekecewaan masyarakat desa penyangga yang selama ini hidup dalam ancaman. Kamis 15/01/2026.



Ketua DPW LPK YAPERMA Sumbagsel, Sunarso, S.H., menegaskan bahwa konflik tersebut bukan peristiwa alamiah semata, melainkan dampak dari kebijakan yang abai terhadap keseimbangan ekosistem dan keselamatan manusia. Menurutnya, penyempitan ruang jelajah satwa dan masuknya berbagai aktivitas manusia ke kawasan hutan telah mendorong satwa keluar dari habitatnya dan berhadapan langsung dengan warga.



Sunarso secara tegas mendesak agar perluasan kandang badak di zona inti Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang dialihkan menjadi zona pemanfaatan segera dihentikan. Zona inti, kata dia, harus dikembalikan pada fungsi konservasi murni dan bebas dari kepentingan yang membuka ruang aktivitas manusia.



Selain itu, ia menuntut penghentian segala bentuk aktivitas manusia di dalam hutan TNWK, kecuali yang benar-benar esensial dan berbasis konservasi ketat. Aktivitas non-esensial dinilai memperparah gangguan ekosistem dan meningkatkan risiko konflik satwa–manusia, yang pada akhirnya selalu menempatkan warga desa penyangga sebagai korban.


LPK YAPERMA Sumbagsel juga mendorong audit menyeluruh dan independen terhadap NGO yang berkaitan dengan TNWK, guna memastikan transparansi, akuntabilitas, serta manfaat nyata program konservasi bagi masyarakat lokal. Sunarso menekankan bahwa konservasi tidak boleh berjalan tanpa pengawasan dan mengabaikan dampak sosial.



Yang paling utama, Sunarso menuntut bantuan dan pemberdayaan nyata bagi masyarakat desa penyangga TNWK—dalam bentuk apa pun—karena merekalah pihak yang paling terdampak langsung. Bantuan ekonomi, sarana pengamanan desa, edukasi mitigasi konflik, hingga jaminan sosial bagi korban harus menjadi prioritas negara.

Menurutnya, tragedi di Braja Asri harus menjadi titik balik. Konservasi sejati, tegas Sunarso, adalah konservasi yang melindungi satwa sekaligus menjamin keselamatan dan kesejahteraan manusia. Tanpa keberpihakan kepada warga terdampak, konservasi akan kehilangan legitimasi moralnya dan terus melahirkan konflik yang berulang.


“Tulisan ini merupakan opini penulis sebagai Ketua DPW LPK YAPERMA Sumbagsel dan bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat desa penyangga kawasan konservasi.”


Pewarta: Sunarso.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!