Guru, Beban atau Penopang Negeri?
Halsel/Queen News.Co.Id/- Beberapa waktu lalu muncul pernyataan dari seorang pejabat bahwa “guru adalah beban negara.” Sekilas, kalimat ini terdengar seolah-olah masuk akal, karena gaji guru memang berasal dari anggaran negara. Tapi kalau kita berhenti di situ, maka pandangan ini sangat sempit, bahkan menyesatkan." Sabtu, 23 Agustus 2025
Guru bukan sekadar angka di laporan belanja negara. Guru adalah penopang utama bangsa. Tanpa guru, tidak akan ada dokter, insinyur, ekonom, atau bahkan menteri yang bisa berbicara di depan publik. Semua berawal dari ruang kelas sederhana, di mana seorang guru dengan sabar menanamkan huruf, angka, logika, dan nilai." Ucap Rasdin
Kalau negara menganggap guru sebagai beban, sama saja dengan menganggap fondasi rumah sebagai beban bangunan. Padahal tanpa fondasi, rumah tidak pernah bisa berdiri. Guru adalah fondasi itu. Mereka memang tidak menghasilkan uang secara langsung, tetapi dari tangan mereka lahir generasi yang menciptakan inovasi, membangun perusahaan, dan menggerakkan ekonomi." Kata Rasdin
Sejarah dunia membuktikan hal ini. Jepang bangkit dari kehancuran perang bukan karena kekayaan alam, tapi karena disiplin dan dedikasi para pendidiknya. Korea Selatan melesat menjadi negara teknologi karena menghargai profesi guru dan menaruh pendidikan sebagai prioritas utama.
"Sementara di sini, guru seringkali masih dianggap “pengeluaran.” Bahkan ironis, ketika ada pejabat yang menyebut mereka beban. Padahal, kalau ada yang sungguh membebani negara, itu justru ketidakseriusan dalam memperbaiki pendidikan." Tandasnya
Beban itu ada ketika guru dibayar rendah tapi dituntut tinggi. Beban itu ada ketika guru disuruh bekerja dengan kurikulum yang berubah-ubah tanpa arah jelas.
Beban itu ada ketika profesi guru dipandang sebelah mata, sehingga generasi muda enggan bercita-cita jadi pendidik.
Maka, pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah guru beban negara, ataukah negara yang sedang membebani guru?
Guru bukanlah beban. Guru adalah investasi jangka panjang. Apa yang mereka tanam hari ini mungkin tak terlihat hasilnya besok, tapi akan nyata dalam sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun mendatang.
Bangsa yang mengerdilkan guru akan menuai generasi yang kerdil pula. Sebaliknya, bangsa yang meninggikan guru akan berdiri tegak di panggung dunia.
Jadi, mari kita balik ucapannya: Guru bukan beban negara. Guru justru adalah beban yang rela memikul masa depan bangsa, agar kita semua tidak ditimpa beban kebodohan." Tutupnya
Said Jumat
