QueenNews.co.id / BANDARLAMPUNG — Kematian Anwar Hakim, seorang penjaga kantor PT Get Map, di sebuah rumah di Perumahan Nuwo Sriwijaya, Hajimena, Lampung Selatan, menyisakan misteri. Pihak keluarga menduga ada banyak kejanggalan, mulai dari tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, hilangnya rekaman CCTV, hingga dugaan penghalangan laporan oleh oknum kepolisian.
Kakak kandung korban, NP, menjelaskan bahwa sebelum ditemukan meninggal, Anwar diminta seorang pimpinan PT Get Map untuk menjaga kantor perusahaan. "Dia disuruh oleh temannya yang jadi pimpinan di perusahaan itu untuk menunggu kantor. Di situlah jenazahnya ditemukan," kata NP.
Selama hampir satu tahun, Anwar setia menjaga kantor dan rutin mengunjungi keluarganya. Namun, menjelang hari kematiannya, kebiasaan itu mendadak berhenti. NP merasakan firasat buruk hingga akhirnya bersama keluarga memberanikan diri mendatangi rumah tempat Anwar tinggal. Mereka menemukan Anwar sudah tak bernyawa dalam kondisi tak wajar. "Saya dan keluarga menangis karena melihat adik saya sudah tiada, kondisinya tidak wajar, dan diperkirakan sudah beberapa hari meninggal," ujarnya.
Dugaan Kekerasan dan Sikap Dingin Perusahaan
NP menuturkan, kondisi jenazah Anwar menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan. Di tubuh korban terdapat bekas gosong seperti siraman air keras dan di ujung jari ada darah. "Di badannya ada hitam mutung seperti disiram air keras. Di ujung jarinya ada darah," jelas NP.
Ia juga menyoroti sikap manajer PT Get Map, FJ, dan pemilik rumah, M, yang dinilai dingin saat jenazah ditemukan. "Mereka hanya berdiri melihat. Tidak menunjukkan empati sebagai teman, apalagi pimpinan," tambah NP.
Setelah itu, polisi dari polsek setempat mengevakuasi jenazah ke RS Bhayangkara untuk otopsi luar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan empat kejanggalan: rahang patah, sayatan di bagian kiri tubuh, bekas siraman cairan kimia, dan luka lainnya. Meskipun polisi menyarankan otopsi dalam, keluarga menolak karena prosesi pemakaman sudah disiapkan. "Akhirnya saya tanda tangan karena saya sudah bingung dan tidak dilakukan otopsi dalam," kata NP.
Pelaporan yang Penuh Hambatan
Tak puas dengan hasil otopsi luar, keluarga sepakat untuk melaporkan kasus ini. Namun, saat mendatangi Polsek Natar, mereka justru mendapat tanggapan yang tidak mengenakkan. "Tanggapannya kurang mengenakkan, seolah menghalangi laporan. Dia menyuruh saya tidak melapor karena katanya tidak ada pembunuhan," ungkap NP.
Meski demikian, keluarga tetap melanjutkan laporan. Kejanggalan kembali muncul ketika hasil otopsi dalam keluar. NP mengaku diminta menandatangani surat yang bagian atasnya ditutup. Setelah adu mulut, ia diizinkan membaca dan terkejut karena tidak ada satu pun pihak PT Get Map yang diperiksa. "Yang diperiksa hanya satpam, istri M yang punya rumah, tetangga, dan satu karyawan. Pihak perusahaan tidak ada sama sekali," tegasnya.
Rekaman CCTV Hilang Misterius
Keluarga juga menemukan fakta mengejutkan terkait CCTV di lokasi kejadian. Rekaman selama lima hari, termasuk saat kejadian, hilang seperti ditelan bumi. "Yang ada hanya rekaman saat kami datang dan sebelum kejadian. Rekaman pas kejadian hilang seperti ditelan bumi," kata NP.
Selain itu, keluarga dilarang melihat hasil otopsi dengan alasan rahasia negara. Ketika akhirnya diberikan surat otopsi, tidak tercantum nama korban dengan alasan kepolisian independen. "Dalam surat itu tertulis rahangnya patah, sebelumnya di otopsi luar pertama dadanya sobek. Tapi tidak ada nama korban di surat itu," ujarnya.
Seruan Keadilan untuk Anwar
Bagi keluarga, semua bukti mengarah pada dugaan pembunuhan. "Bukti dan hasil otopsi jelas tidak menunjukkan bunuh diri. Kami menduga kuat dia dibunuh," kata NP.
Ia berharap kasus ini diusut tuntas, termasuk dugaan adanya oknum polisi yang menghalangi penyelidikan. "Polisi itu pengayom dan pelayan masyarakat, bukan malah membela yang bertentangan dengan masyarakat," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, belum memberikan jawaban atas konfirmasi media.(Redaksi)

