Dowora, 1 Maret 2025
Halmahera Selatan/Queen news.-Menurut saya persoalan Iwan Fals bukan hanya dia sudah tidak kritis, tapi secara umum tenaganya dalam berkarya seperti sudah habis.
Di puncak kiprahnya sampai era 1990-an, Iwan memang bikin banyak lagu yang kritis terhadap pemerintah. Tapi jangan dilupakan dia juga menulis lagu yang kritis terhadap nasib dan Tuhan, lagu-lagu humor yang segar, serta lagu-lagu cinta yang manis dan otentik.
Artinya kritik terhadap politik cuma satu aspek saja dari keseluruhan dunia karya Iwan Fals. Kekuatan utamanya ada pada kesegaran dan kedalaman liriknya. Entah dia menulis kritik, menulis gombalan atau menulis kelakar, semuanya terasa segar dan khas.
Kesegaran dan kekhasan itu yang terasa sekali sudah absen dalam album Suara Hati yang dirilis pada era 2000-an, setelah cukup lama vakum. Di album tersebut Iwan masih menulis kritik, juga di beberapa lagu sesudahnya. Tapi kekuatannya sudah jauh berbeda.
Syair-syair lagu dalam Suara Hati lebih bernada seperti nasihat, menyugestikan nuansa religius dan refleksi personal tapi banal.
Selain itu album tersebut digarap bersama beberapa musikus yang relatif belum punya banyak pengalaman, sehingga standar musikalitasnya pun menurut saya jauh ketimbang Iwan muda yang biasa kita kenal. Jurnalis senior Andreas Harsono sedikit membahasnya dalam tulisan yang menurut saya esai terbaik tentang Iwan Fals yang pernah dituliskan, Dewa dari Leuwinanggung.
Apa yang membuat Iwan Fals berubah? Barangkali ia memang sudah kehabisan tenaga dan inspirasi untuk menghasilkan karya-karya baru yang bernas. Gejala seperti ini jamak terjadi di kalangan seniman ketika sudah melewati masa puncak berkaryanya.
Tapi bisa jadi juga persoalannya lebih kompleks daripada itu. Kematian anak sulungnya Galang Rambu Anarki meninggalkan trauma yang dalam bagi Iwan. Beberapa tahun lalu saya sempat menyaksikan Iwan dalam acara Kick Andy dan merasakannya menjadi gugup ketika perbincangan masuk dalam topik kematian Galang.
Entah kebetulan atau tidak, selepas kepergian Galang ia belum lagi menghasilkan karya yang menandingi kualitas karya lamanya.
Selain itu pergaulan Iwan juga banyak berubah sejak akhir dekade 1990-an. Seperti juga diceritakan dalam esai yang saya taut di atas, pada usia muda ia bergaul dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Mulai akademisi, aktivis, seniman, musikus eksperimental, budayawan, pelacur, preman, pemgamen dan lain sebagainya. Pengalaman tersebut mengayakan khazanah dunia penciptaan Iwan Fals. Ketika usianya menua ia bertemu dengan lebih sedikit jenis orang. Yang banyak ditemui hanyalah penggemarnya.
Saya ingat salah satu syair lagu lamanya, menceritakan pelacur yang mandi di kali di bawah rel kereta, "perempuan malam mandi di kali, buih-buih busa sampo ketengan…". Lagu itu punya nuansa dan deskripsi yang kuat tentang hidup pelacur yang tidak bahagia, tanpa sekali pun menyebut "sedih" atau "bahagia".
Bandingkan dengan lirik salah satu lagu di Suara Hati, "relakan yang terjadi, takkan kembali. Ia sudah milik-Nya, bukan milik kita lagi…". Lirik ini terasa kering dan minus imajinasi.Dangkal seperti nasihat klise.
Apa pun yang ditulis Iwan Fals muda, entah kritik, humor, romansa, absurditas dan lainnya, selalu berakar dari metafora dan deskripsi konkret realitas sehari-sehari yang membangun nuansa tertentu. "Laju sepeda kumbang di jalan berlubang, selalu begitu dari dulu waktu zaman Jepang," berhasil membangkitkan gambaran sosok sederhana guru Oemar Bakrie, tanpa sekali pun menyebut tentang kondisi ekonominya. Kekuatan seperti ini yang absen dalam syair lagu-lagu Iwan Fals tua.
Ada satu lagu Iwan era 2000-an yang bikin saya melongo saat pertama mendengar. Syairnya, "desa harus jadi kekuatan ekonomi, agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah modal utama, untuk bekerja dan mengembangkan diri".
Bagi saya kalimat tersebut lebih cocok masuk dalam makalah ekonomi ketimbang menjadi syair lagu. Apalagi buat musisi sekelas Iwan Fals. Padahal di masa mudanya, kualitas syair-syair realis Iwan Fals bisa disandingkan dengan karya para sastrawan realis terbaik Indonesia, seperti Umar Kayam, Pramoedya A.T. Ahmad Tohari dan lainnya.
Jadi sejauh ini secara pribadi saya menyimpulkan memang kekuatan musikalitas dan syair Iwan seperti sudah kering. Sebagai seniman masa keemasannya sudah lewat. Ia masih berusaha kritis, berusaha romantis, berusaha jenaka, tapi tak sanggup lagi menyampaikannya dalam musik dan lirik yang kuat.
Seperti disebut di atas, penyebab kemunduran Iwan mungkin karena memang masa keemasannya sudah lewat. Mungkin juga wafatnya Galang memberi pengaruh. Atau pergaulannya yang semakin menyempit. Boleh jadi malah kombinasi ketiga hal itu memengaruhinya secara bersamaaan.
