QueenNews.co.id / JAKARTA — Ajang bergengsi Trade Expo Internasional (TEI) 2025 kembali menjadi titik temu strategis bagi para pelaku usaha dan pembeli (buyer) global. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh berbagai pelaku usaha Indonesia, termasuk salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tengah naik daun, Nenek Moyang 69, yang berfokus pada produk Herbs and Spices (Rempah dan Herbal).
Kehadiran di TEI 2025 menjadi momen penting bagi Nenek Moyang 69 untuk memamerkan potensi kekayaan alam Indonesia kepada dunia. Intari, sang Owner Nenek Moyang 69, menjelaskan fokus bisnisnya.
"Di sini kami mengembangkan sumber daya alam untuk perawatan herbal dengan nama Herbal Nenek Moyang, sebagai perawatan rempah-rempah dari seluruh tubuh,” ujar Intari.
Ia juga mengajak konsumen, khususnya kaum wanita, untuk lebih meminati dan menjadikan produk berbahan dasar herbal sebagai pilihan utama perawatan diri, mengingat melimpahnya bahan baku rempah berkualitas di Indonesia.
Kekuatan Rempah Lokal dan Dampak Ekonomi Petani
Nenek Moyang 69 memiliki komitmen kuat untuk memberdayakan petani lokal. Bahan-bahan unggulan yang mereka gunakan—seperti white turmeric (kunyit putih), bay leaf (daun salam), turmeric (kunyit), lemongrass (serai), hibicus sabdariffa (rosella), curcuma xanthorrhiza (temulawak), aromatic/sand ginger (kencur), pandan, gotukola (pegagan), dan celery (seledri)—semuanya diambil dari petani.
Produk yang ditawarkan terbagi menjadi dua kategori utama, dengan perbedaan jelas dalam karakteristik dan kegunaannya:
Herbs (Herbal): Berasal dari daun tanaman segar atau kering, umumnya memiliki aroma lembut, dan digunakan untuk penambah rasa serta manfaat kesehatan.
Spices (Rempah): Berasal dari bagian tanaman lain seperti biji, akar, kulit kayu, atau bunga kering. Rempah memiliki rasa yang lebih kuat dan tajam dibandingkan herbal.
Harapan Besar di Tengah Pasar yang Luas
Meski baru pertama kali mengikuti TEI, Nenek Moyang 69 bukanlah pemain baru dalam kancah internasional. Intari mengakui bahwa produknya telah menjangkau sejumlah negara, namun masih dalam skala kecil.
“Produk Nenek Moyang sudah sampai ke sejumlah negara untuk skala kecil. Kita sudah ekspor ke Taiwan, Hongkong,” jelas Intari.
Saat ini, fokus utama perusahaan adalah memenuhi permintaan di pasar domestik yang ia sebut memiliki potensi yang sangat besar. Untuk konsumen dalam negeri, produk Nenek Moyang 69 dapat diperoleh melalui berbagai platform marketplace.
Intari berharap partisipasi perdana di TEI 2025 ini akan membuka jalan bagi ekspansi yang lebih besar.
“Untuk pertama kali kami ikut TEI. Besar harapan kami, siapa tahu setelah ikut TEI bisa langsung ekspor untuk skala besar,” tutup Intari, optimistis. Kesempatan di TEI ini diharapkan menjadi akselerator bagi Nenek Moyang 69 untuk membawa rempah-rempah unggulan Indonesia ke pasar dunia secara masif.(Mel)

